Selasa, 26 Januari 2016

kehan curan gunung merapi

kehancuran gunung merapi

oleh ;HILMI

Kehancuran Candi Borobudur Kuno dan Dinasti Budha – Sailendra Karena Letusan Dahsyat Gunung Merapi 1006?

Candi Borobudur terletak di sisi utara kaki bukit Menoreh, dengan ketinggian 265 meter dari permukaan laut. Borobudur terletak di daerah tinggi antara dua gunung berapi kembar, Sundoro-Sumbing dan Merbabu-Merapi, dan dua sungai, Progo dan Elo. Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapaetimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama iniberasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yangartinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Berdasarkan atas tulisan yang terdapat pada “kaki” tertutup dari Candi Borobudur yang berbentuk huruf Jawa kuno yang berasal dari huruf pallawa. Kemungkinan candi inidibangun sekitar tahun 824 M dan selesai sekitar menjelang tahun 900-an Masehi pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani yang adalah putri dari Samaratungga.
Candi Borobudur dibangun oleh Dinasti Sailendra antara tahun 750 dan 842 Masehi, pada waktu pulau Jawa dikuasai oleh keluarga raja-raja Sailendra antara tahun 832-900. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanahbebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra. Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berartitempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalambahasa sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur. Candi Buddha ini kemungkinan besar ditinggalkansekitar satu abad setalah dibangun karena pusat kerajaan pada waktu itu berpindah ke Jawa Timur.
Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, namaBorobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, disebutkan tentang biara di Budur. Di kitab tersebut ditulis bahwa candiini digunakan sebagai tempat meditasi penganut Buddha.
Monumen ini tidak lupa sama sekali, walaupun cerita rakyat secara bertahap bergeser dari kejayaan masa lalu yang menjadi keyakinan takhayul lebih dikaitkan dengan nasibburuk dan kesengsaraan. Dua Jawa kuno kronik (babad) dari abad ke-18 kasus menyebutkan nasib buruk yang terkait dengan monumen. Menurut Babad Tanah Jawi (atauSejarah Jawa), monumen merupakan faktor fatal bagi seorang pemberontak Mas Dana yang memberontak terhadap raja Mataram Raja Paku Buwono I tahun 1709. Bukit itu dikepung dan para pemberontak kalah, tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati oleh raja.
Dalam Babad Mataram (atau Sejarah Kerajaan Mataram), monumen dikaitkan dengan malapetaka dari putra mahkota Kesultanan Yogyakarta, Pangeran Monconagoro padatahun 1757. Meskipun sebuah tabu untuk mengunjungi monumen, “mengambil dia apa yang tertulis sebagai ksatria yang ditangkap dalam sangkar (patung di salah satu stupa yang berlubang)”. Setelah kembali ke istana, ia jatuh sakit dan meninggal satu hari nanti.
Kemudian karena letusan gunung Merapi, sebagian besar bangunan Candi Borobudur tertutup tanah vulkanik. Borobudur selama berabad-abad tersembunyi di bawah lapisanabu vulkanik dan pertumbuhan hutan. Selain itu, bangunan juga tertutup berbagai pepohonan dan semak belukar selama berabad-abad. Kemudian bangunan candi ini mulai terlupakan pada zaman Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-15.
Borobudur selama berabad-abad tersembunyi di bawah lapisan abu vulkanik dan pertumbuhan hutan. Fakta-fakta di balik ditinggalkannya yang tetap menjadi misteri. Tidakdiketahui bila penggunaan aktif monumen dan ziarah Buddhis itu berhenti. Di suatu tempat antara 928 dan 1006, pusat kekuasaan pindah ke wilayah Jawa Timur dan serangkaian letusan gunung berapi terjadi; itu tidak ada kepastian apakah kedua mempengaruhi tapi beberapa sumber menyebutkan ini sebagai periode paling mungkin ditinggalkan.
Bangunan raksasa ini hanya berupa tumpukan balok batu raksasa yang memiliki ketinggian total 42 meter. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir.
Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir, reruntuhan bangunan batu di desa Bumisegoro, Karisidenan Kedu. Berdasarkan berita itu Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bangunan candi semakin jelas, candi yang sangat besar dan pemugaran dilanjutkan pada 1825. Pada 1834, Residen Kedu membersihkan candi lagi, dan tahun 1842 stupa candi ditinjau untuk penelitian lebih lanjut. Pemugaran selanjutnya oleh Cornelius pada masa Raffles maupun Residen Hatmann. Kemudian Wilsen (1849) melengkapi dengan gambar bangunan dan relief candi dan dokumentasi foto oleh Van Kinsbergen (1873). setelah itu periode selanjutnya dilakukan pada 1907-1911 oleh Theodorus van Erp yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang.
Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikelilingii rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi.
Candi Borobudur yang besar dan megah tentu dibangun untuk kegunaan-kegunaan yang besar pula, namun kenyataan mengisahkan bahwa pada akhirnya candi besar ini mengalami pula masa terbengkalai. Kapan bangunan ini mulai terabaikan tidak diketahui dengan pasti, tetapi dapat diperkirakan bersamaan dengan surutnya masa kejayaan Wangsya Syailendra, keluarga kerajaan yang memerintahkan pembangunan bangunan keagamaan in

Tidak ada komentar:

Posting Komentar